Hingga Oktober, Transaksi Remitansi BRI Capai Hampir Rp700 Triliun

2019-12-03 11:44:13

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BRI) mencatat pertumbuhan transaksi dalam bisnis remitansi atau pengiriman uang dari dan ke luar negeri. Hingga Oktober, bisnis remintansi BRI mencapai Rp469,1 triliun, naik 12,3 % dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan BRI Hary Purnomo mengatakan, pertumbuhan transaksi di bisnis remitansi BRI pada periode tersebut secara keseluruhan masih di atas target yang ditetapkan perseroan.

"Jumlah transaksi incoming remittance hingga Oktober mencapai 6,4 juta transaksi atau tumbuh sekitar 12,3% (yoy) dengan volume mencapai Rp 469,1 triliun," kata Hary sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id, Selasa (3/12/2019).

Bisnis incoming remitansi BRI disumbang utamanya oleh negara-negara seperti Malaysia, Arab Saudi, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan.

Selaras dengan pertumbuhan transaksi remitansi, fee based income (FBI) yang didapat dari bisnis remitansi tersebut juga naik. Pada periode yang sama, Hary menyebutkan FBI naik 10% secara tahunan (year on year) tanpa merinci angkanya.

Hingga akhir 2019, BRI berharap target FBI bisa tumbuh 15% secara tahunan. Hary optimistis target tersebut dapat tercapai mengingat aktivitas atau transaksi di akhir tahun akan meningkat.

Untuk mencapai target tersebut, BRI menyiapkan beberapa strategi seperti melakukan inovasi teknologi, menawarkan fee yang kompetitif, dan penambahan kerjasama dengan counterpart remittance baru.

Sebagai informasi, BRI berhasil mengantongi FBI sebesar Rp 9,74 triliun, naik 13,7 % secara tahunan pada kuartal III 2019. Sedangkan, fee yang berkaitan dengan transaksi non e-channel sebesar Rp 638 miliar, naik 19,5 % secara tahunan.

Penyumbang FBI adalah administrasi simpanan Rp 2,99 triliun, administrasi kredit Rp 2,97 triliun, kartu kredit Rp 202 miliar (naik 11,6% YoY), trade finance dan bisnis internasional Rp 1,25 triliun (naik 24,7%,) fee dari e-channel Rp 256 miliar (naik 24,5% YoY), dan fee lain-lain Rp 241 miliar.

 

Foto: Sindonews.com

Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera