3 Bahaya yang Perlu Diketahui sebelum Ajukan Pinjaman Online

2019-08-13 12:50:49

Fintech peer-to-peer lending atau layanan pinjaman online berbasis teknologi saat ini menjadi primadona di tengah masyarakat yang membutuhkan dana cepat. Pasalnya mengajukan pinjaman dari fintech lebih mudah dibandingkan dari bank konvensional.

Kemudahan tersebut terlihat dari cepatnya proses pengajuan dan pencairan pinjamannya. Tidak hanya itu, syaratnya sama mudahnya dan bahkan tanpa harus menggunakan jaminan untuk mendapatkan dana pinjaman.

Namun di balik semua kemudahan yang ditawarkan fintech pinjaman online ternyata tersimpan bahaya yang mungkin bisa mengancam. Salah satunya adalah Anda bisa terjebak oleh jeratan utang yang sangat membebani.

Jangan mudah tergiur dengan kemudahan yang diberikan fintech. Sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman online, sebaikanya Anda memahami dulu bahayanya yang mungkin muncul berikut ini.

1. Mengajukan Pinjaman bikin ketagihan

Mengajukan pinjaman dana cepat secara online dari fintech bisa menjadi hal yang membuat ketagihan. Karena kemudahan yang ditawarkan fintech, banyak orang tidak ragu untuk mengajukan pinjaman, bahkan dengan nominal yang cukup besar.

Seabnya adalah persyaratan dan proses pengajuan yang lebih mudah dibandingkan bank konvensional, yang kerap membuat masyarakat enggan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

Jika tidak bijaksana dalam hal ini, bukan tidak mungkin Anda akan ketagihan dalam mengajukan pinjaman di aplikasi pinjaman online. Contohnya ada kasus seseorang terjebak jeratan utang dari belasan aplikasi pinjaman online.

Oleh karena itu, Anda harus bijak dalam memanfaatkan fasikitas dan kemudahan yang diberikan fintech. Ajukan pinjaman di aplikasi pinjaman online hanya untuk memenuhi kebutuhan yang memang sangat penting.

2. Mengajukan pinjaman dari fintech ilegal

Di Indonesia, fintech pinjaman online yang terdaftar dan berizin saat ini jumlahnya ada seratusan. Dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah fintech resmi atau legal tersebut mencapai 113 entitas.

Namun keberadaan fintech abal-abal atau ilegal juga tidak bisa diremehkan. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada fintech legal. Satgas Waspada Investasi bentukan OJK menemukan ada 1.230 entitas yang menyelenggarakan pinjaman online secara ilegal.

Fintech abal-abal tidak memiliki izin operasi dari OJK dan tidak terdaftar di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Sedangkan fintech resmi mendapatkan pengawasan dari OJK dan AFPI, serta data para nasabah aman dan terjamin.

Selain itu, fintech ilegal yang juga memberikan suku bunga pinjaman yang terlampau tinggi. Akibatnya, cicilan pinjaman Anda juga bakal sangat membengkak.

Jadi pastikan Anda mengajukan pinjaman dari fintech terdaftar di OJK dan AFPI. Ini untuk menghindari risiko penipuan dan ancaman kekerasan dalam penagihan terutama saat Anda telat atau gagal bayar. Dengan meminjam dari fintech legal, Anda bakal mendapatkan pendampingan langsung dari OJK karena fintech tersebut terdaftar secara resmi.

3. Cicilan pinjaman di luar kemampuan

OJK mewajibkan semua fintech yang terdaftar untuk mengikuti aturan soal batas maksimum suku bunga dalam setahun dalam memberikan pinjaman kepada nasabahnya.

Sebaiknya Anda mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal ini agar suku bunga yang didapat dari fintech tidak membebani Anda dan sesuai dengan kemampuan untuk mencicil pinjaman. Bukan malah tidak bisa menjangkaunya. 

Anda bisa melakukannya dengan menggunakan fitur simulasi pinjaman yang disediakan fintech di situsnya. Ini sangat berguna untuk Anda dalam memilih nominal beserta tenornya. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui rincian nominal cicilan yang harus dibayar per bulannya.


Foto: Istimewa

Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera