Benarkah Fintech Pinjaman Online Ancaman Bagi Perbankan?

2019-08-12 17:12:57

Selama beberapa tahun belakangan ini, industri pinjaman online menunjukkan pamornya sehingga keberadaannya dinilai mengancam sektor keuangan yang diisi oleh perbankan konvensional sejak lama.

Ternyata penilaian tersebut tidak benar adanya. Menurut Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja, keberadaan pinjaman online justru mengisi ceruk yang tidak bisa dilayani bank, yaitu layanan kredit mikro. Dia menyebut, OCBC NISP dahulu sempat menggeluti lini bisnis mikro, namun tak bertahan lama. 

"Kita lihat ini ada karena bank enggak bisa serve. Kita dulu masuk bisnis mikro awal 2010 dan kemudian kita keluar," katanya dikutip dari Kompas, Senin (12/8).

Parwati mengakui fintech lending memiliki keunggulan dalam hal bidang teknologi dan penetrasi ke pasar yang lebih luas. Sedangkan, bank unggul dalam hal kepemilikan dana yang lebih besar dan pengelolaan risiko yang lebih baik.

Oleh karena itu, bank dan fintech lending dikatakan seharusnya bisa saling melengkapi satu sama lain. Jika ingin berkembang, fintech lending harus berkolaborasi dengan bank, dalam bentuk akuisisi oleh bank atau suntikan modal oleh anak perusahaan modal ventura milik bank terkait.

Parwati mengatakan, fintech lending membutuhkan suntikan dana yang lebih besar dan tidak bisa menghasilkan pendanaan dari ritel saja. "Sumber pendanaan fintech berasal dari ritel, dan kalau scale up mereka butuh partner institusi."

“Pelayanan di Indonesia juga masih butuh banking. Konteksnya di Indonesia, ibarat kue, pie-nya growing, mindset-nya enggak. Kemudian kita rebutan kue, tapi bagaimana membuat kuenya lebih besar," imbuh dia.

OCBC NISP sendiri memiliki sebuah perusahaan modal ventura bernama PT OCBC NISP Venture, yang didirikan pada Juli lalu. Anak perusahaan ini nantinya akan menyuntikkan modal kepada perusahaan peer to peer lending yang bisa membantu memberi solusi atau mengembangkan bisnis UKM.

Ada pun modal dasar dari perusahaan modal ventura ini sebesar Rp 400 miliar dengan modal ditempatkan sebesar Rp 100 miliar. PT Bank OCBC NISP Tbk memegang saham mayoritas sebanyak 99,99 persen (Rp 99,90 miliar) sedangkan PT Suryasono Sentosa memegang saham sebanyak 0,1 persen (Rp 100 juta).


Foto: Istimewa

Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera