Dukung Ekonomi Kreatif, Fintech 'Likuid' Ajukan Izin ke OJK

2020-02-14 10:19:05

Ekonomi kreatif merupakan salah satu industri yang tengah berkembang di Tanah Air. PT Likuid Dana Bersama melihat perkembangan itu sebagai peluang. 

Perusahaan pun tengah mengajukan izin sebagai teknologi finansial (fintech) urun dana (equity crowdfunding) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mereka berfokus menyediakan pendanaan untuk bisnis ekonomi kreatif seperti film, kuliner, hiburan, kecantikan, kesehatan hingga e-sport.

Saat ini, skema pembiayaannya lewat project financing. “Kami ingin membuka alternatif akses permodalan ini bersama investor pemula alias masyarakat umum kata CEO dan Founder Likuid Kenneth Tali saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/2) lalu, dilansir via Katadata.co.id.

Investor sudah bisa mulai berinvestasi pada 17 Februari nanti. Besaran investasinya mulai dari Rp 100 ribu.

Alasan Likuid menyasar segmen ekonomi kreatif, karena industri ini menghadapi tiga persoalan yaitu pendanaan, pemasaran, dan menggaet pengguna (engagement). Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 2017, sekitar 92,37% pelaku industri di Indonesia mengandalkan modal pribadi. 

Para pelaku ekonomi kreatif masih kesulitan mendapatkan permodalan dari perbankan. Alternatifnya masih didominasi investor high net-worth yang memiliki aset lebih dari US$ 1 juta atau Rp 13,7 miliar.

Karena itu, Likuid ingin menjadi alternatif pembiayaan bagi pelaku usaha ekonomi kreatif dengan mengumpulkan dana masyarakat. Selain itu, startup ini juga menggaet investor individu alias angel investor. 

Pengumpulan pendanaan untuk satu proyek dilakukan selama dua bulan. Namun, Kenneth berharap target pembiayaan rerata terkumpul dalam sepekan. 

Likuid akan menyerahkan dana tersebut ke pelaku usaha (fundraiser) 14 hari setelah terkumpul. Investor akan mendapat imbal hasil 12-20% per proyek.

Saat ini, ada empat proyek bersiap untuk didanai mulai 17 Februari nanti. Di antaranya film Dealova 2 oleh PT Capo dei Capi (Capo dei Capi), marketplace media iklan dan promosi PT ADX Asia Indonesia (ADX Asia), PT Berjaya Sally Ceria (Sour Sally Group), serta penyedia saja konsultasi dan promotor acara PT Stellar Indonesia (Stellar Indonesia). 

Likuid masih akan berfokus menggalang pendanaan untuk pelaku ekonomi kreatif di pulau Jawa terlebih dulu. "Karena biayanya cukup besar untuk menyasar ke luar Jawa. Kami ingin membangun kesadaran publik dulu,” katanya.

Tahun ini, penyaluran dana lewat Likuid ditarget Rp 40 miliar. Setiap proyek rerata mendapat pendanaan sekitar Rp 800 juta. "Targetnya 50 proyek," katanya. 

Perusahaan yang berdiri 2018 itu bekerja sama dengan beberapa kementerian dan lembaga (K/L) seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Riset dan Teknologi. 

Likuid menargetkan 2.500 pengguna dalam kurun waktu empat bulan setelah resmi berstatus terdaftar dari OJK. Saat ini, startup tersebut tercatat di regulatory sandbox OJK sejak Juli 2019.


Foto: dok.Likuid


Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera