OVO Yakin Indonesia Bisa Tiru China yang Sukses Atasi Inklusi Keuangan

2019-12-02 10:06:43

Salah satu fintech pembayaran yang menyediakan layanan dompet digital populer di Indonesia, OVO, meyakini bahwa Indonesia mampu meniru kisah sukses di China yang berhasil mengatasi masalah inklusi keuangan.

Presiden Direktur Ovo Karaniya Dharmasaputra mengatakan bahwa Indonesia bisa mengatasi masalah inklusi keuangan tersebut dengan menumbuhkan industri fintech.

"Kita sepakat bahwa kita bisa replikasi kisah sukses di China. Bagaimana masalah inklusi keuangan bisa diatasi oleh fintech," kata Karaniya pada acara Indonesia Digital Conference 2019 di Jakarta, pekan lalu, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (2/12/2019).

Saat ditanya soal konsolidasi antar perusahaan fintech, Karaniya mengatakan, pasar layanan fintech di Indonesia tergolong masih luas. Alasannya karena penetrasi pembayaran digital di Indonesia masih rendah, di kisaran empat sampai lima persen.

Oleh karena itu, perusahaan fintech pun masih perlu banyak membakar modal untuk mengembangkan potensi pasar ini. "Market kita masih terlalu luas. Masih butuhkan banyak usaha, banyak kapital. Karena kita pembayaran digital baru tiga persen," ujarnya.

Karaniya berujar, wajar apabila perusahaan fintech masih kerap bakar uang demi meraup pasar. Bakar uang adalah strategi fintech yang belum mendapat untung, tapi rajin menebar diskon hingga cash back untuk menggaet banyak pengguna.

"Dibutuhkan upaya kampanye besar-besaran untuk mengedukasi masyarakat supaya mulai masuk ke dunia layanan teknologi. Sama dengan ride hailing dan e-commerce juga begitu. Tak hanya Ovo," pungkasnya.

Selain itu, Karaniya menyebutkan berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini persentase inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 78 persen, lebih tinggi dari yang ditargetkan, yakni sebanyak 70 persen.

Tingkat inklusi keuangan di Indonesia lebih tinggi dari literasi keuangan. Pencapaian ini tak lepas dari eksistensi fintech.

Adapun Karaniya mengklaim, jumlah pengguna Ovo yang belum pernah tersentuh layanan perbankan sebelumnya mencapai 27 persen.

 

Foto: Swa.co.id

Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera