Penipuan Marak, Fintech Pembayaran Disarankan Terapkan Biometrik

2020-01-14 11:11:32

Tindak kejahatan seperti penipuan melalui aplikasi dompet digital milik perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran belakangan marak terjadi. Tercatat, beberapa pesohor seperti Aura Kasih dan Maia Estianty menjadi korbannya.

Para pelaku penipuan tersebut menggunakan beberapa modus seperti meminta kode one time password (OTP) hingga memakai fitur pengalihan panggilan (call forward).

Ternyata perusahaan fintech pembayaran tersebut tidak menerapkan sistem keamanan yang kuat. Oleh karena itu, mereka disarankan untuk menerapkan otentikasi multi faktor (Multi-Factor Authentication) macam biometrik.

Hal tersebut disampaikan oleh perusahaan teknologi, Nippon Telegraph and Telephone (NTT) Ltd. CEO NTT Ltd Indonesia Hendra Lesmana menilai, otentikasi multi faktor sangat diperlukan ketika layanan dompet digital semakin masif digunakan.

“Harus ada filtering. Kalau hanya kirim SMS seperti OTP tidak cukup, harus ada lebih lanjut," kata dia di Jakarta dikutip dari Katadata, Selasa (14/1/2020).

Otentikasi multi faktor sendiri adalah menerapkan keamanan biometrik dengan menggunakan sidik jari atau retina mata. "Penggunaan sidik jari atau retina itu juga cara yang aman," ujar Hendra.

Namun menurutnya, keamanan biometrik saja belum cukup untuk menghindari penipuan berbasis rekayasa sosial (social engineering). Perusahaan fintech juga disarankan untuk menerapkan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pengguna.

Penipuan melalui OTP atau call forward diprediksikan akan marak terjadi pada tahun ini. Peretas bisa mengelabui korban menggunakan metode yang seakan valid padahal isinya membahayakan. Sehingga korban secara tak sadar memberikan akses kepada peretas. 

Hendra mengatakan, peretas bisa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). "Mereka bisa lihat, serangan mana yang lebih mudah dan lebih sering berhasil membobol, itu yang disasar," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Tassa Nugraza Barley mengatakan rendahnya literasi keuangan digital masyarakat adalah sebab maraknya kasus penipuan.

“Misalnya, belum banyak yang sadar kalau OTP itu sesungguhnya sama pentingnya seperti PIN ATM," tuturnya.

Tassa menilai hal tersebut merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan di industri layanan keuangan digital, termasuk perusahaan fintech. Dia pun mengingatkan agar masyarakat harus terus mendapat literasi keuangan digital.

 

Foto: Istimewa

Blog terkait

Unduh Sekarang Pinjam Segera
Unduh Sekarang Pinjam Segera